Gamers??? Nyebelin!!!  

Posted by untitleblogs

Maling  

Posted by untitleblogs

Dalam ruang sidang, sedang dibacakan dakwaan dan tuntutan oleh jaksa penuntut umum. Seorang pemuda berparas hati rupawan menjadi terdakwa. Ia didakwa telah mencuri dari seorang gadis yang dikenal baik hati dan santun pula budinya. Didampingi seorang pengacara, dengan tenang dan penuh keyakinan ia mendengarkan kata demi kata yang diuraikan jaksa. Tak jauh dari tempat pemuda itu duduk, gadis yang menjadi korbanya juga tengah menyimak penuturan jaksa. Tiga orang hakim dalam sidang itu dengan serius mengkaji setiap detail uraian jaksa. Bagi ketiganya, meskipun ini hanya kasus pencurian, namun dirasa cukup membingungkan. Bagaimana tidak jika telah terjadi pencurian namun tidak ada saksi mata dan barang bukti. Sedangkan terdakwa membenarkan pengaduan korban kepada tim penyidik.

“Hakim Ketua yang terhormat, atas nama keadilan pemuda ini sudah sepantasnya mendapat hukuman sepanjang hidup dan wajib mengembalikan hak milik korban yang telah dicurinya!!” tuntut sang jaksa.

Semua yang hadir terkejut mendengar tuntutan jaksa termasuk gadis itu yang tak lain adalah korban. Sesungguhnya tak sejauh itu tuntutan yang diinginkannya. Asal pemuda itu bersedia mengembalikan apa yang telah ia curi, gadis itu bersedia menarik kembali tuntutannya dan pemuda itu bebas dari hukuman.

Kini tiba saatnya pemuda itu memberikan tanggapan atas tuntutan jaksa. Pemuda itu melangkah menuju kursi panas yang terletak di depan hakim ketua. Langkahnya tegap layaknya seorang ksatria. Ia begitu tenang, di wajahnya tak sedikitpun tersirat kegelisahan dan hanya keteduhan yang terpancar. Sebelum duduk ia menatap gadis itu mengurai seulas senyum. Dengan tenang dan penuh keyakinan, pemuda itu mulai berucap,

“Hakim Ketua Yang Terhormat, setelah mendengar tuntutan dari jaksa penuntut umum, saya mengerti dan menyadari bahwa saya memang bersalah. Saya bersedia menerima hukuman sepanjang hidup saya namun saya tidak bisa mengembalikan barang yang sudah saya ambil.” katanya tenang.

“Mengapa kamu tidak bisa mengembalikannya?” tanya Hakim Ketua

“Karena saya merasa mempunyai hak atas apa yang saya ambil.” jawab pemuda itu

“Apa maksudmu? benda itu milikku dan sepenuhnya milikku!!!” teriak si gadis.

“Benda itu memang milikmu, tapi itu kuanggap sebagai harga yang pantas untuk membayar apa yang telah kau ambil dariku.” balas si pemuda

Gadis itu terkejut mendengar penuturan si pemuda begitu pula hakim, jaksa, dan semua yang menghadiri sidang. Gadis itu tak mengerti mengapa pemuda itu bisa mengatakan bahwa ia telah mengambil sesuatu milik pemuda itu. Selama ini gadis itu dikenal sebagai gadis yang baik hati, gadis yang ramah dan santun budinya. Banyak orang yang menyukai kelembutan hatinya. Namun semenjak pemuda itu mencuri benda paling berharga miliknya, sedikit demi sedikit kelembutan hatinya menghilang. Ia berubah menjadi pemurung dan mudah marah.

“Memangnya benda apa yang telah kau ambil dari pemuda ini, nona?” tanya hakim

“Sungguh aku tak mengambil apapun dari pemuda ini.” jawabnya

“Wahai kau pemuda, memangnya benda apa yang kau tuduhkan telah diambil oleh gadis ini?” hakim balik bertanya pada si pemuda

“Tulang rusukku, Hakim Ketua. Jadi para hadirin, apa salah jika saya mencuri hatinya untuk menggantikan tulang rusukku yang tak berhasil aku ambil kembali darinya?” tanya pemuda itu.

Semua yang hadir dalam persidangan itu terkejut mendengarkan penuturan si pemuda. Mereka bergumam dan saling berbisik. Beberapa petugas yang mengamankan jalannya sidang pun turut bergumam.

Thok..thok..thok..

“Tenang…tenang..harap hadirin tenang, tolong hormati persidangan ini!!” teriak hakim

Mendengar ketuk palu hakim, para hadirinpun diam. Tiba-tiba gadis itu berdiri dan berkata,

“Baiklah, kalau begitu ambil kembali tulang rusukmu dan kembalikan hatiku” kata gadis itu

“Maaf, aku tidak bisa melakukannya.” jawab si pemuda. Matanya menatap gadis itu dengan berkaca-kaca.

“Mengapa kamu tak bisa melakukannya?” tanya gadis itu dan membalas tatapan si pemuda dengan berkaca-kaca pula.

“Karena itu akan melukaimu dan menyakitimu” lanjut si pemuda

“Tapi dengan kau mencuri hatiku, kau telah merubah warna hidupku. Hakim Ketua yang terhormat, tolong wujudkan keadilan dalam persidangan ini” pinta gadis itu

“Maaf, tapi saya benar-benar tidak bisa mengembalikan hati ini dan mengambil tulang rusuk itu” sahut pemuda itu. Satu demi satu air matanya mulai menitik.

“Lalu bagaimana sekarang? Tak mungkin aku hidup tanpa hati itu..” ucap gadis itu lemah dan ia mulai menangis.

“Bagaimana kalau kita bernegosiasi?” tawar si pemuda

Kembali pemuda itu mengejutkan orang-orang dalam ruang sidang tersebut. Bahkan ketiga hakim yang dikenal bijaksana itu menjadi beingung dengan sikap pemuda itu.

“Apa maksudmu dengan bernegosiasi?” tanya si gadis

“Begini, kita sama-sama tidak bisa mengembalikan apa yang sudah kita ambil ataupun meminta apa milik kita yang telah diambil, kau mengerti maksudku bukan?” dengan tenang pemuda itu berujar.

“Aku paham maksudmu, lalu negosiasi yang bagaimana yang kamu maksud?” tanya gadis itu

“Karena hatimu ada padaku, maka izinkan aku menjaga hatimu!?” pinta si pemuda. Pemuda itu lalu berlutut dan mengulurkan tangannya pada si gadis.

“Mari kita hidup bersama dan saling menjaga, karena aku tak bisa hidup tanpa tulang rusukku dan kau tak bisa hidup tanpa hatimu!?” ajak si pemuda

Entah kenapa setelah mendengar ucapan pemuda itu tiba-tiba gadis itu merasakan kelegaan yang teramat sangat. Segala kegelisahan dan kesedihan yang dirasakannya kini tiada. Mungkinkah karena ia telah menemukan kembali bagian hidupnya yang hilang? Apapun itu tanpa ragu ia mengulurkan tangan menerima uluran tangan si pemuda. Seluruh hadirin beserta para jaksa dan hakim bertepuk tangan, bersorak bahagia.

“Baiklah para hadirin, sidang kami cukupkan sekian. Kasus ini kami nyatakan selesai.” tutup Hakim Ketua seraya mengetuk palunya tiga kali.

Thok..thok..thok…

Di Kaki Kyai Slamet  

Posted by untitleblogs

Yen ing tawang ono lintang
Cah ayu…aku ngenteni tekamu
Marang mega ing angkasa…nimas
…………………………………………

Larik demi larik lagu itu terdendangkan mengiringi setiap kemesraan soreku bersama sebuah sapu lidi di halaman rumah. Dialah pakdhe Karjo yang senantiasa mendendangkan lagu itu. Bersama istrinya, budhe Iyem, telah bertahun-tahun tinggal di sebelah rumahku. Sebuah rumah yang sederhana, sesederhana kehidupan mereka.
Pakdhe Karjo adalah seorang tukang becak yang ceria, sedangkan budhe Iyem adalah seorang penjual nasi pecel keliling yang ramah dan murah hati. Tuntutan kebutuhan ekonomi yang kian hari kian melonjak membuat mereka tetap mencari penghasilan dimalam hari dengan sebuah warung hik di dekat alun-alun kota Solo.

Seperti sore-sore sebelumnya, kembali kunikmati dendang lagu campursari khas pakdhe Karjo saat aku mulai keluar rumah dengan sapu lidi di tangan. Kuperhatikan sejenak pakdhe Karjo yang tengah mengusap-usap becaknya dengan kain lap. Seraut wajah ceria senantiasa terpancar menutupi kesepiannya dihari tua. Kadang aku berpikir, apa pakdhe Karjo dan budhe Iyem ini tak punya masalah dalam hidupnya? Saat iseng-iseng aku bermain ke rumahnya, tak pernah aku dengar mereka mengeluh tentang kehidupan.

“Nduk, jangan ngalamun nanti kesurupan lho!!!” sapa pakdhe Karjo menyadarkanku.
“Ndak kok pakdhe, saya ndak ngelamun,” aku jadi pekewuh sama pakdhe.
masih bingung nanti malam mau dolan kemana?” goda pakdhe Karjo.
“Ndak bingung kok pakdhe, kan sudah jelas mau dolan ke alun-alun.” jawabku sambil berdansa dengan sapu lidiku.

Nanti adalah malam Suran pasti alun-alun ramai. Ada kirab dari Puro Mangkunegaran yang biasa dimulai pada ba’da isya dan kirab dari Keraton Surakarta yang dimulai pada tengah malam dan selesai pada sekitar pukul tiga dini hari. Dalam iring-iringan kirab Keraton Surakarta ada beberapa ekor kebo bule yang konon kabarnya adalah keturunan Kyai Slamet. Kebo Kyai Slamet ini biasa mengembara di sekitar Solo dan pada malam Suran akan datang ke Kemandungan Lor tanpa ada yang mengarahkan, begitu pula saat memimpin kirab. Ada mitos yang menceritakan bahwa setiap jejak yang ditinggalkan kebo ini membawa berkah. Tapi mitos tetaplah mitos, ada yang percaya ada pula yang tidak percaya.

@@@

Iring-iringan Kirab Pusaka Puro Mangkunegaran baru saja berlalu. Orang-orang yang tadinya berdesakan di sekitar Puro Mangkunegaran mulai membubarkan diri. Dalam kirab pusaka tahun ini, putra Mangkunegara (MN) IX GPH Paundra Karna bertindak sebagai "cucuk lampah". Kirab dilakukan denga cara berjalan kaki mengelilingi tembok Puro dengan tapa bisu. Kirab diikuti oleh abdi dalem, sentana, narapraja, dan kerabat Mangkunegaran lainnya. Selain itu, Mangkunegaran juga membuka diri untuk masyarakat Solo yang ingin ikut dalam kirab tersebut. Hanya saja, busana harus menyesuaikan, yakni busana Jawa beskap. Hal itu sebagai bukti kalau Mangkunegaran milik semua warga Solo yang peduli pada budaya. Rute yang ditempuh tidak terlalu jauh. Hanya mengelilingi tembok Puro Mangkunegaran dan hanya dibutuhkan waktu selama 45 menit. Hal itu karena seringkali rombongan kirab berhenti untuk menunggu peserta yang di barisan belakang. Jika berjalan normal, rute itu bisa ditempuh sekitar 20 menit saja.

Di balik deklit biru pakdhe Karjo, aku bersama temanku duduk ditemani tiga gelas wedang jahe anget. Untung warung hik pakdhe Karjo ini berada hanya sekitar 200 meter dari pintu gerbang Keraton, jadi aku tak perlu kemana-mana lagi untuk menyaksikan Kirab Pusaka dan Kebo Kyai Slamet.

Tak terasa sudah pukul 23.45, lima belas menit lagi kirab akan dimulai. Aku dan teman-temanku keluar warung untuk bergabung dengan warga lainnya di tepi jalan. Pintu gerbang keraton terbuka, rombongan kirab mulai berjalan keluar. Di barisan depan ada lima ekor kebo bule yang tiada lain adalah Kebo Kyai Slamet. Diikuti oleh abdi dalem dan sentana dalem yang terpercaya dan kuat secara fisik maupun spiritual karena pusaka tersebut dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang besar. Sebelum prosesi kirab dilakukan, pusaka-pusaka yang akan dikirab akan di-jamasi terlebih dahulu. Selama pusaka dibawa keluar dari Dalem Ageng Probosuyoso, Susuhunan dan sentono dalem yang tidak ikut kirab akan melakukan sesi meditasi dan Tahajud di Kagungan Dalem Masjid Pudyosono. Kirab tersebut melalui jalur yang disebut Pradaksina, dengan selalu menjaga posisi kraton berada di sebelah kanan pusaka yang dikirab. Ketika tiba di depan warung hik milik pakdhe Karjo, salah satu kebo Kyai Slamet berhenti lalu berjalan ke arah belakang warung. Para abdi dalem yang menjadi pawang mengikuti kebo itu untuk mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa sentana dalem dan narapraja menggerutu karena kejadian tersebut. Tiba-tiba kebo itu melenguh keras sekali. Budhe Iyem yang terkejut berlari ke belakang warung.

“Duh Gusti…Masya Allah..pak mrenea disik…” teriak budhe Iyem
Ono opo tho, bu?? Kok ya teriak-teriak.” kata pakdhe Karjo seraya menyusul istrinya dan diikuti orang-orang termasuk aku.
”Iki lho pak…ono bayi neng njero kardus!!” teriak budhe Iyem

Saat aku tiba di tempat budhe Iyem berteriak, sebuah kardus berisi bayi yang masih merah tergolek di sela kaki kebo tadi. Seorang sentana mendekat dan menyuruh abdi dalem untuk mengambil si jabang bayi. Beliau juga mempertanyakan asal usul si jabang bayi, namun ternyata tak seorangpun mengaku ataupun mengetahuinya.

”Kanjeng, manawi dipunkeparengaken, kersanipun kula ingkang ngopeni jabang bayi punika..”ucap budhe Iyem memohon welas asih.
“Koe gelem ngopeni tenan?” tanya sang sentana memastikan.
“Inggih Kanjeng, saestu.” jawab budhe Iyem mantap.
“Ya wis, bayi iki tak pasrahke koe. Siji sing tak jaluk, anggonmu ngopeni sing temenan lan muga-muga bayi iki dadi berkahing awakmu sakeluarga.” pesan kanjeng.
“Maturnuwun Kanjeng,..” ucap pakdhe Karjo sambil membungkuk menghaturkan sembah.

Kebo bule yang tadi menemukan bayi di belakang warung pakdhe Karjo tiba-tiba melenguh dan pergi meninggalkan rombongan. Beberapa abdi dalem mengejarnya, diikuti oleh rombongan kirab lainnya.
Sepeninggalan rombongan kirab pusaka, tak hentinya pakdhe dan budhe mengucap syukur pada Gusti Allah SWT atas apa yang mereka terima malam ini. Derai air mata bahagia mengalir dari mata keduanya membuat semua yang menyaksikannya turut terharu. Kini kebahagian mereka telah dilengkapi oleh kehadiran seorang anak meskipun bukan darah dagingnya sendiri.

*pekewuh: sungkan
malam Suran : malam 1 Suro / 1 Muharram
cucuk lampah : pemimpin kirab
tapa bisu : menutup mulut (tidak berbicara)
abdi dalem : pembantu kerajaan
sentana dalem : keluarga keraton
narapraja : pejabat keraton
deklit : tenda dari plastik tebal
di-jamasi : dibersihkan
Pradaksina : rute searah jarum jam
“Duh Gusti…Masya Allah..pak mrenea disik.” : “Duh Gusti…Masya Allah..pak kemari sebentar”
”Kanjeng, manawi dipunkeparengaken, kersanipun kula ingkang ngopeni jabang bayi punika..” : “Kanjeng, kalau diijinkan, biarkan saya yang merawat bayi ini..”
“Koe gelem ngopeni tenan?” : “Sungguh kamu bersedia merawatnya?”
“Inggih Kanjeng, saestu.” : ”Iya Kanjeng, saya bersungguh-sungguh”
“Ya wis, bayi iki tak pasrahke koe. Siji sing tak jaluk, anggonmu ngopeni sing temenan lan muga-muga bayi iki dadi berkahing awakmu sakeluarga.” : “Ya sudah, bayi ini aku serahkan kepadamu. Satu pintaku, kamu rawat bayi ini dengan sungguh-sungguh, dan semoga bayi ini menjadi berkah bagimu sekeluarga.”
“Maturnuwun Kanjeng,..” : “terima kasih Kanjeng”