| Pengawas | : | Birahilaut |
| Ketua kelas | : | Nanasa |
| Sekretaris | : | Cat |
| Anggota | : | Dhewy_re |
| | | Senja_Saujana |
| | | Panah Hujan |
| | | Belle03cute |
Lokalitas Sastra
Kita melihat begitu banyak karya satra yang betebaran dipasaran, semua karya-karya itu dilempar kepasaran dengan harapan dapat menjadi best seller. Mereka membuat berbagai karya dengan berbagai corak. Kebanyakan dari semua karya tersebut mengambil acuan selera pasar sebagai tema utama mereka.
Dari sekian banyak karya yang ada masih ada beberapa yang mengusung cerita yang mengandung unsur lokalitas. Memasukkan unsur lokalitas dalam karya mereka. Dengan kata lain lokalitas memang sengaja digabungkan dalam cerita mereka. Dalam sebuah cerita modern dapat kita temui unsur lokalitas juga walaupun tidak sekental cerita-cerita yang memang mengusung hal tersebut.
Berikut adalah pemahaman mengenai lokalitas sastra dari Sel C
Lokalitas Sastra adalah memberi warna pada karya sastra dengan unsur-unsur lokal yang mengandung nilai budaya. Pada umumnya lokalitas karya sastra ditandai dengan penggunaan bahasa/ dialek daerah, idiom/ perlambangan lokal, serta teknis penulisan. Diharapkan pula lokalitas sastra mampu menjadi penanda jaman.
- Apakah lokalitas itu tidak masalah dalam berkarya??
- Mengapa kita tidak membuat warna sendiri/aliran sendiri??
Suatu hari Melani Budianta mengeluh. Daerah-daerah di Indonesia, katanya, memang sangat kaya dengan beragam budaya, tetapi sayangnya masih sedikit pengarang sastra subkultur atau sastra lokal yang menuliskan kekayaan tersebut. Padahal sastra subkultur dapat mulai dikembangkan dalam komunitas-komunitas sastra.
Di dalam komunitas ini seorang pengarang dapat mengembangkan diri sebelum menjadi mainstream. Menurut Melani, kurangnya pengarang sastra subkultur bisa disebabkan oleh pasar yang tidak responsif. Padahal dukungan pasar terhadap sastra subkultur turut memengaruhi perkembangannya. Bagaimanapun karya sastra akan berhadapan dengan masyarakat yang menjadi sasarannya.
Harus diakui, perkembangan sastra subkultur di Indonesia masih dihadang banyak kesulitan. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki pengarang yang mampu menuliskan sastra subkulturnya sendiri, apalagi di daerah-daerah yang selama ini terpinggirkan, seperti di daerah timur Indonesia. Kalaupun daerah itu memiliki penulis sastra subkultur dengan bahasa dan gayanya sendiri, belum tentu mereka mampu melawan pasar yang sudah memiliki mainstream penilaian karya sastra.
- Kenapa kita INDONESIA kehilangan jati diri?
Penulis2 memiripkan karya dengan orang luar? Setelah membaca karya JK Rowling dan menyadari kalau karya tersebut best seller penulis-penulis mulai terpengaruh dan mengikuti gaya mereka dan kehilangan jati diri sendiri.
Orang luar membicarakan mengenai kebudayaan mereka yang hebat, peradaban di Eropa, kebudayaan mereka, sumber alam, indahnya negeri mereka dan bahasa mereka yang terus berkembang, sedangkan kita mulai melunturkan segala budaya kita, mengadaikan budaya dan bukti sejarah. Mengantikan semua itu dengan sepotong budaya imitasi yang bukan akar dari budaya kita. Memasukkan budaya yang bukan murni milik kita kedalam cerita kita dan mengagungkannya kepada pasar, serta tersenyum saat menjadi best seller.
Pergantian budaya yang dilakukan dalam cerita memberi dampak baru pada masyarakat yaitu masyarakat muda sekarang ini merasa yakin semua isi cerita yang tersampaikan adalah bagian budaya kita, dan mulai mempraktekkan budaya baru yang mereka baca sebagai karya indah itu.
Indonesia memiliki peradaban yang megah dan begitu banyak misteri yang dapat diceritakan kepada anak cucu serta jagad raya. Mengapa cerita itu malah dibinasakan? Mengapa kita malah memupuk pohon budaya lain?
Karya atau tulisan ataupun cerpen yang subkultur / lokal kadang merasa takut dengan megahnya pasar. Kalaupun daerah itu memiliki penulis sastra subkultur dengan bahasa dan gayanya sendiri, belum tentu mereka mampu melawan pasar yang sudah memiliki mainstream penilaian karya sastra.
- Bisakah disimpulkan bahwa pembaca kurang menghargai penulis Indonesia?
- Bila dikatakan seperti itu mengapa karya penulis-penulis Indonesia banyak terjual?
Karya penulis Indonesia yang beraneka ragam dengan aneka tema, baik tema yang melawan pasar maupun tema mengikuti arus pasar tetap dikelompokkan dalam karya anak bangsa. Tapi pembeli atau pasar lebih cinta pada karya-karya atau cerpen-cerpen yang telah mereka kenal dengan baik. Tidak ingin mencoba rasa aneh (bagi mereka).
Seperti halnya dalam makanan. Bila seorang petinggi atau ahli kuliner megatakan masakan ini enak maka enaklah masakan itu. Demikian pula dengan dunia tulis menulis. Propaganda atau pengenalan karya oleh media membuat masyarakat terbius oleh sebuah tema yang mudah dan menjual.
Seorang bintang baru bila terus menerus disodorkan oleh media, maka masyarakat akan mengasumsikan kalau dia adalah bintang tenar. Walaupun belum tentu dia berkualitas. Media membentuk sebuah image dan masyarakat menelan bulat-bulat image itu.
Nuansa lokal makin tersisih dalam sastra Indonesia. Para sastrawan kita mulai kehilangan kepekaan terhadap alam sekitarnya. Ahmad Tohari menyebut kehilangan kepekaan para sastrawan ini sebagai sebuah pengkhianatan yang nyata. Dia menekankan pilihan mengangkat realisme sosial sebagai latar belakang karya sastra tidaklah buruk, tetapi pengayaan karya serasa mandek ketika tidak ada eksplorasi terhadap nuansa lokal. Karya-karya sastra kita dewasa ini terlalu didominasi nuansa urban yang kemudian memunculkan karya-karya massal tanpa dilengkapi identitas tersendiri.
Gerakan untuk menengok kembali tradisi dan budaya daerah dalam sastra pernah dicoba oleh Ajip Rosidi dan dan kawan-kawan. Ajip mengatakan, bahwa generasi terbaru sastra Indonesia -- yang adalah generasinya -- tidak belajar dari sastra dunia, khususnya sastra Barat, melainkan belajar dari para sastrawan Indonesia sendiri di satu sisi dan budaya lokal yang mereka hidupi sebelumnya di sisi lain. Dengan bekal itulah mereka menulis sastra.
Umumnya sastrawan era 1950-an yang mencanangkan kembali ke daerah itu pada dasarnya menulis bukan dari pusat jantung budaya daerah mereka. Agus R Sarjono menunjuk Robohnya Surau Kami. Karya AA Navis ini dengan mudah dapat saja diterakan pada latar yang lain, Jawa Barat, atau Sulawesi Selatan misalnya. Tentu saja di sana ada unsur surau yang memiliki signifikansi makna sebagai salah satu akar tradisi Minang. Namun dalam cerpen Navis, ia tidak signifikan mengacu pada surau sebagai sebuah basis budaya Minang. Surau di sana mengacu pada sebuah basis kultur keagamaan tertentu.
Pada era 1980-an kecenderungan mengangkat warna lokal dalam sastra Indonesia memang menguat. Tidak bisa tidak salah satu pemicunya adalah lahirnya dua novel yang fenomenal, yakni Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang sangat kuat warna lokalnya, dan Pengakuan Pariyem yang juga basah oleh lokalitas kedaerahan. Dua karya ini dapat dijadikan contoh bagi dua kecenderungan menggali daerah dalam sastra Indonesia.
Sedangkan cara paling mudah untuk memulai sifat lokalitas itu sendiri adalah dengan menuliskan idiom-idiom yang terdekat dengan kita.
Misalnya, Ronggeng Dukuh Paruk menyajikan daerah sebagai sebuah latar yang solid, yg tak tergantikan. Latar tidak menjadi warna lokal, karena lokalitas di sana menjadi acuan peristiwa serta melahirkan peristiwa. Kita menemukan gejala yang sama pada novel Mochtar Lubis >Harimau! Harimau!, yang sebagaimana Ronggeng Dukuh Paruk tidak dapat digantikan latarnya.
Harimau sebagai kenyataan real tidak dapat kita temukan di pelosok hutan Kalimantan, misalnya, meskipun harimau sebagai metafor hasrat liar dan ganas manusia boleh saja ada di sana. Permainan antara harimau sebagai binatang buas di satu sisi dengan harimau yang bermain di sudut hati tokoh-tokohnya hanya mungkin disajikan dengan latar rimba raya Sumatera.
Agus menunjukkan pula, bahwa bersamaan dengan itu bermunculan pula karya-karya sastra yang lahir dari hati nurani daerah, dengan ideologi kedaerahan tertentu, sebagaimana ditunjukkan oleh Pengakuan Pariyem, serta kemudian juga cerpen dan novel Umar Kayam seperti Sri Sumarah, Bawuk, serta Para Priyayi. Berbeda dengan Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari, misalnya, Pengakuan Pariyem tidak bermula pada latar, melainkan pada ideologi daerah.
Latar kisah ini dapat ditukar ke mana saja, Jakarta, Sulawesi, atau Kalimantan, namun sejauh yang bermain di dalamnya adalah manusia Jawa semacam Pariyem dalam relasinya dengan bangsawan Jawa seperti Cokrosentono, maka ia tetap bisa tegak. Hal ini berbeda dengan jika tokohnya diganti. Begitu tokoh utamanya diganti menjadi perempuan Minang, misalnya, maka novel ini tidak bisa jalan, hancur berkeping tidak karuan. Jawa dan kejawaan dalam Pengakuan Pariyem menjadi unsur utama. Demikian pula kejawaan dalam Sri Sumarah, Bawuk, atau Para Priyayi.
Gus TF lewat novelnyaTambo jelas-jelas menyajikan budaya Minangkabau yang diromantisasi dan diidealisasi sedemikian rupa sebagai tawaran alternatif dan jalan ke luar bagi budaya Indonesia di masa depan, atau Sukreni Gadis Bali.
Kecenderungan lain dalam mengelola tenaga budaya daerah adalah dengan menjadikan (sastra) daerah sebagai teknik. Di sini bukan latar dan/atau manusia-manusia daerah yang terutama dihadirkan, melainkan penggunaan teknik sastra daerah. Tentu saja yang paling menonjol dan berhasil dalam hal ini adalah Sutardji Calzoum Bachri. Di tangannya, mantra sebagai salah satu bentuk sastra daerah dapat bertransformasi sedemikian rupa dan menyeruak dalam khasanah sastra Indonesia. Banyak yang terkejut karenanya, dan diam-diam atau terus terang banyak pula sastrawan yang mulai menggali-gali khasanah sastra daerah untuk dimanfaatkan tekniknya bagi sastra modern Indonesia.
Sebelum Sutardji, kecenderungan untuk memanfaatkan teknik dari khasanah tradisi daerah sudah terlihat pada Rendra sebagaimana nampak pada kumpulan sajaknya yang pertama Balada Orang-orang Tercinta, yang sarat dengan aroma sastra rakyat Jawa, khususnya dolanan anak-anak. Hal yang sama terlihat pula pada sajak-sajak Ramadhan KH pada Priangan Si Jelita yang banyak memanfaatkan teknik tembang Sunda. Namun, pada Rendra pemanfaatan teknik ini menjadi sebagian saja dari pilihan teknik yang dia gali bagi sajak-sajaknya. Pada masa kini, pemanfaatan khasanah sastra daerah sebagai teknik ungkapan terlihat pada misalnya sajak-sajak Taufik Ikram Jamil yang menggunakan teknik bersanjak Melayu sebagaimana terlihat pada kumpulan puisinya Tersebab Haku Melayu.
Keperluan terhadap sastra yang mengangkat masalah daerah menjadi lebih mendesak lagi belakangan ini bersama ramainya gerakan otonomi daerah. Kita tidak ingin otonomi daerah itu tumbuh menjadi sebuah gerakan isolasi terhadap daerah lain sehingga mewacanakan budaya tunggal yang sudah kita alami bersama dampaknya semasa Orde Baru.
Lihat cala ibi dan laluba yang sarat idiom dan lokalitas gaya penulisannya
indonesia itu identitas yg belum selesai dan selalu dipaksakan dengan kekuasaan dan kekerasan. Keindonesiankita adalah kebhinnekaan Dimana setiap kebudayaan lokal menjadi soko guru bagi lahirnya kebudayaan nasional. Indonesia yg beraneka raga menjadi aset yg penting
Lokalitas sastra memang lebih mudah dilihat dari segi bahasa, karena yang di titikberatkan bukanlah memasukkan kata-kata lokal yang tidak dimengerti oleh pihak publik, melainkan lebih cenderung pada nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Jadi kalo ada cerita yg lokalitas jawa dan yang membacanya adalah orang asing atau orang yang tidak tahu seluk beluk kejawaan, akan mengetahui tentang adat jawa. Dengan kata lain walau diterjemahkan ke bahasa manapun, tetap saja menunjukkan kalau itu produk jawa lokal.
Dalam hal ini, Agus R Sarjono menunjuk Robohnya Surau Kami. Karya AA Navis ini dengan mudah dapat saja diterakan pada latar yang lain, Jawa Barat, atau Sulawesi Selatan misalnya. Tentu saja di sana ada unsur surau yang memiliki signifikansi makna sebagai salah satu akar tradisi Minang. Dengan membaca surau orang langsung terbawa pada salah satu akar tradisi Minang, surau juga bisa membawa ke basis agama tertentu. Seperti juga membaca “mandau, mengayau”, atau membaca candi orang langsung terbawa ke jawa bisa juga makanan khas, cinderamata dll, sedang tentang hindu, pura, dll pasti ingat Bali. Begitu juga saat lihat film denias, kita jadi tahu adat suku asmat. Itulah salah satu guna lokalitas cerpen, memperkenalkan tentang budaya.
- Tanggapan Pasar mengenai lokalitas
Lokalitas saat ini masih sulit diterima pasar. Hanya beberapa dari sekian banyak karya yang mengandung kental nilai lokalitas yg dapat singgah dan diam di hati pembaca. Semua bergantung ke media, bagaimana cara media mengiklankan dan memasarkan produk. Namun ketika kembali pada idealisme penulis, maka tak peduli bagaimana kondisi pasar. Apapun yang ingin mereka tulis, ya itulah yang tercipta sebagai karya sastra murni yang muncul dari dalam hati.
Salah satu kelemahan dan kekurangan sehingga kelahiran angkatan sastra terbaru itu kurang mendapatkan posisi yang kuat dalam sejarah sastra Indonesia, karena ciri estetik yang 'menyatukannya' dianggap kurang meyakinkan. Ini karena kebanyakan dari mereka menulis puisi atau cerpen tidak dengan akar yang kuat melainkan mengikuti selera redaktur
Munculnya puisi-puisi (naratif) yang panjang, seperti banyak dimuat Harian Kompas maupun puisi-puisi pendek seperti dimuat Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaruan, dan Koran Sindo atau puisi-puisi bergenre agama di Republika, seolah-olah merupakan mainstream puisi mutakhir Indonesia (Gejala ini juga menguat pada beberapa komunitas sastra terutama di Jakarta). Sehingga seseorang merasa sudah berhasil bila puisinya dimuat satu media atau telah mendapat legitimasi dari komunitas-komunitas tersebut dan merasa gagal bila tak ada satu media pun yang memuatnya atau ditolak oleh komunitas-keomunitas tersebut.
Sadar atau tidak, koran dan kemunitas tertentu secara luas dan kuat telah 'melemaskan' gairah idealisme kerja kreatif yang difference atau alternatif. Dalam waktu lama, tentunya hal ini akan berimbas pada peta perjalanan sejarah perpuisian tanah air.
Kesimpulannya jadilah diri sendiri dalam menulis, pergunakan potensi yang paling akrab dan dekat. Ada semacam filsafat candan diantara saya dan teman2 sepeti ini “sebagus apapun kau menulis, seindah apapun karyamu kau akan di cap sebagai bayang-bayang kalau kau tidak menjdi diri sendiri. Paling-paling dia bilang oh dia muridnya “Pram”, atau dia berguru dengan “Sapardi”, pengikut jejak “Surarji” atau penganut mashab “Gunawanisme”
Demikian hasil diskusi pertama kami, apabila masih banyak kekurangan kami memohon maaf sekaligus kami memohon kritik dan saran dari para pembaca. Untuk Bang Dino terimakasih bimbingannya.