Setelah minggu lalu membahas mengenai pngertian dan pemahaman tentang Lokalitas, maka pada minggu ini sel C membahas mengenai kandungan unsur lokalitas dalam cerpen Robohnya Surau Kami dan Rumah Makam.
Berikut analisa sel C,
- Robohnya Surau Kami
Dalam cerpen ini unsur lokalitas yang ditonjolkan adalah logat, penggunaan bahasa, dan penggunaan nama tokoh. Sedangkan unsur budaya kurang menonjol. Unsur apapun yang dititik beratkan tetaplah menunjukkan bahwa cerpen ini memiliki nilai lokalitas.
- Rumak Makam
Kalau cerpen yang kedua ini sangat terasa dalam hal adat istiadat. Dimana dalam cerpen diceritakan bagaimana adat dalam memperlakukan mayat. Serta bagaimana perlakuan adat terhadap tokoh. Meskipun tokoh (Susilo) telah meninggalkan tempat asalnya (
Banyak yang berpendapat bahwa unsur-unsur budaya yang terkandung dalam sebuah cerpen lebih banyak memberikan dampak negative bagi tokoh. Misalnya adat istiadat yang mengatur tingkat kasta atau adat yang mengatur tentang perjodohan tokoh. Sebenarnya tidak semua adat memberikan warna negative. Hanya saja adat istiadat yang berlaku sekarang ini sudah tidak lagi 100% sesuai dengan kondisi saat ini. Semestinya adat istiadat bersifat fleksibel sesuai dengan pekembangan jaman. Mesti bijaksana dalam pelaksanaannya.
Kembali pada unsur lokalitas. Selain tentang logat, bahasa, penamaan tokoh, dan budaya unsure lainnya adalah tempat. Dalam cerpen biasanya diwujudkan dalam setting.Unsur tempat akan lebih mendukung penggunaan unsur-unsur yang lain. Sayangnya cerpen-cerpen lokalitas saat ini pada umumnya hanya menggunakan sedikit unsur lokalitas sehingga sulit dimengerti letak ke-lokalitasannya.
Berikut link para anggota sel C :
BirahiLaut
Nanasa
Cat
Dhewy_re
Senja_Saujana
Panah Hujan
Belle03cute